Suku Asmat : Kebudayaan, Tarian, Rumah Adat dan Adat Istiadatnya

Suku Asmat – Indonesia dikenal memiliki banyak sekali pulau besar hingga kecil yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Banyaknya pulau ini mengakibatkan Indonesia memiliki banyak suku, adat dan budaya yang sangat berbeda di setiap pulau, bahkan daerah.

Keanekaragaman tersebutlah yang menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu suku yang ada di Indonesia adalah suku asmat. Suku ini berpusat di Indonesia bagian timur dan sudah dikenal di seantero Indonesia.

Bahkan mungkin Anda sendiri pernah mendengarnya di buku Sejarah. Suku ini memang terkenal di Papua sendiri karena keunikan dan kebiasaannya yang menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Suku ini mempunyai populasi penduduk yang paling besar di Pulau utama Papua.

Suku Asmat biasanya berdiam di daerah pedalaman dan di tepi-tepi pantai. Kebudayaan suku asmat merupakan kebudayaan kuno yang diterapkan oleh masyarakatnya secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Penasaran dengan sekilas kehidupan suku asmat?

Kali ini kami akan membahas mengenai budaya-budaya suku asmat. Kami akan membagi artikel ini menjadi beberapa poin yang menjelaskan uniknya budaya.

Upacara Adat ala Suku Asmat

Upacara Adat Ala Suku Asmat
Upacara Adat

Suku Asmat mempunyai keunikan tersendiri di segala aspek gaya hidup mereka. Tidak terkecuali dengan upacara adat yang dilakukan hingga sampai sekarang. Suku asmat mempunyai upacara adat yang unik dan berbeda dengan suku-suku lain di Indonesia. Berikut ini adalah daftar dari upacara adat yang dilakukan oleh suku tersebut :

  • Ritual Kematian

Jika kita sebagai masyarakat biasa menganggap kematian adalah hal yang normal dan biasa, suku asmat tidak memiliki pemikiran seperti itu. Suku tersebut menganggap bahwa kematian bukanlah hal yang natural. Jika ada orang yang mati, maka orang tersebut dianggap telah diganggu oleh roh jahat sampai menemui ajalnya.

Oleh sebab itu, ketika ada orang yang jatuh sakit, mereka segera membangun pagar dari dahan pohon nipah yang kemudian dijejalkan di sekitar orang sakit tersebut. Mereka bermaksud agar roh jahat tidak lagi mengganggu orang yang sedang sakit tersebut.

Selama masa tersebut, mereka hanya memandangi orang sakit tersebut tanpa memberinya pengobatan. Hingga pada akhirnya si sakit tersebut meninggal, mereka akan memeluknya dan menggulingkan badan mereka di lumpur. Jasad orang sakit tersebut diletakkan di atas anyaman bambu dan dibiarkan membusuk di situ.

Ketika sudah menjadi tulang, tulangnya akan di simpan di atas pokok-pokok kayu. Kemudian tengkoraknya digunakan sebagai bantal keluarganya. Selain itu, ada juga masyarakat yang meletakkan jasad di atas perahu lesung, dibekali dengan makanan sagu yang kemudian dihanyutkan di laut.

Ketentuannya adalah, jika jasad tersebut laki-laki, maka tidak boleh mengenakan baju. Apabila jasad tersebut adalah perempuan, maka diharuskan untuk memakai baju. Mereka menguburkan jasad-jasad tersebut di hutan, semak-semak maupun pinggir sungai.

Sebagai penghormatan, orang-orang yang mati dibuatkan ukiran yang disebut dengan mbis. Hal ini dikarenakan adanya kepercayaan bahwa orang-orang yang mati rohnya masih berkeliaran di sekitar rumah keluarga yang berduka.

  • Upacara Mbismbu (Membuat Tiang)

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, mbis adalah ukiran. Mbismbu adalah ukiran patung tonggak yang menyerupai nenek moyang atau saudara yang telah meninggal. Upacara Mbismbu dilaksanakan sebagai pengingat rekan mereka yang mati terbunuh. Seorang rekan harus membalaskan dendam orang yang mati dengan cara membunuh pelakunya.

  • Upacara Tsyimbu (Pembuatan Dan Pengukuhan Rumah Lesung)

Upacara tsyimbu dilakukan sekali dalam lima tahun. Perahu yang dimiliki suku asmat akan dicat dengan warna merah dan putih di luarnya, dan warna putih saja di dalamnya. Perahu tersebut juga akan diukir gambar keluarga yang sudah meninggal. Atau juga bisa ukiran binatang, tumbuhan dan lain sebagainya.

Setelah dicat dan diukir, perahu akan di lumuri dengan sagu. Sebelum menggunakan perahu tersebut, keluarga akan mengunjungi orang yang berpengaruh di daerah itu, seperti kepala suku atau kepala adat. Mereka akan menyanyikan lagu-lagu tradisional dan diiringi dengan tifa sebagai wujud perayaan.

Orang-orang yang bertugas mendayung perahu memakai aksesori berwarna merah putih dan bulu-bulu binatang. Perayaan tersebut diiringi dengan sorak sorai yang diteriakkan oleh anak-anak dan wanita. Juga terdapat keluarga yang mengenang rekannya yang mati.

Dahulu, perahu tersebut awalnya digunakan untuk menyulut pertikaian antar suku di Papua. Namun lambat laun, seiring perkembangan jaman, perahu-perahu tersebut di alih fungsikan sebagai alat untuk mengangkut bahan makanan dari daerah satu ke daerah lainnya.

  • Upacara Yentpokmbu (Ritual Pembuatan Rumah Yew Atau Rumah Bujang)

Rumah bujang, bukan berarti rumah dengan orang-orang jomblo di dalamnya. Rumah bujang ini digunakan layaknya rumah biasa, namun dengan fasilitas tertentu. Rumah ini biasanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan religius maupun non religius. Terkadang juga digunakan sebagai tempat berkumpulnya keluarga.

Rumah bujang ini diberi nama sesuai nama marga pemilik rumahnya. Rumah ini boleh dikunjungi semua orang, namun pada saat tertentu, anak-anak dan wanita dilarang masuk. Seperti misalnya pada saat terjadi penyerangan dan para laki-laki akan menyusun strategi di rumah bujang ini.

Tarian Dan Alat Musik Suku Asmat

Tarian Dan Alat Musik Suku Asmat
britagar.com

Seperti halnya suku-suku lainnya di Indonesia, suku asmat memiliki tarian yang khas. Tarian tersebut diberi nama tarian Tobe, atau yang bisa disebut dengan tarian perang. Seperti namanya, tarian ini dilakukan pada saat diputuskannya untuk melakukan peperangan atas perintah kepala adat.

Seiring berkurangnya konflik antar suku, tarian tobe ini terus dilakukan dengan tujuan hiburan. Mereka akan menari untuk menyambut tamu yang datang ke wilayah suku asmat. Tarian ini mempunyai irama yang ceria dan penuh semangat, yang biasanya diiringi dengan alat musik khasnya yaitu tifa.

Para penari mengenakan manik-manik di daerah dada mereka, dan mengenakan rok dari bahan akar. Mereka juga menyelipkan daun-daun di seluruh bagian tubuh mereka. Hal ini membuktikan bahwa suku asmat sangat dekat dengan alam.

Rumah Adat Suku Asmat

Rumah Adat Suku Asmat
netsains.com

Suku ini biasanya berpusat di pedalaman dan tepi-tepi pantai. Suku tersebut memiliki rumah yang khas dan tradisional, yang diberi nama Jeu. Rumah Jeu ini biasanya memiliki panjang 25 meter. Selain rumah Jeu, sebagian suku asmat memilih membangun rumah di atas pohon.

Ukiran Khas Suku Asmat

Ukiran Khas Suku Asmat
www.indonesiakaya.com

Suku ini disorot oleh banyak masyarakat Indonesia hingga kini, salah satu alasan utamanya adalah karena ukiran suku ini yang begitu unik dan khas. Ukiran-ukiran keluaran suku ini terkesan berbeda dan memiliki nilai magis. Namun bagi suku asmat sendiri, ukiran khas tersebut memiliki makna dan fungsi masing-masing.

Fungsi tersebut di antaranya seperti melambangkan hadirnya roh nenek moyang, cara mereka mengungkapkan ekspresi sedih dan bahagia. Ukiran khas dengan motif manusia, binatang dan tumbuhan melambangkan ekspresi kepercayaan suku asmat.

Pola dari ukiran khas suku ini terbilang unik namun juga estetik secara natural. Hal ini dikarenakan suku ini belum terkontaminasi dengan teknologi, jadi mereka hanya mempunyai bayangan alam di sekitar mereka. Ukiran khas  dapat berbentuk manusia, binatang, tumbuhan, alat-alat musik dan lain sebagainya.

Seni mengukir di dalam kebudayaan suku tidak hanya dinilai dari nilai estetika dan tingkat kerumitannya. Melainkan juga sebagai makna dan simbol penghormatan terhadap roh-roh leluhur mereka yang sudah mati. Itu sebabnya di setiap ukiran khas suku asmat, selalu terdapat nilai-nilai magis dan spiritual.

Adat Istiadat ala Suku Asmat

Adat Istiadat Ala Suku Asmat
Adat Istiadat

Suku asmat memiliki adat istiadat tersendiri untuk kehidupan sehari-hari mereka. Adat ini sudah diturunkan dari nenek moyang dan masih diterapkan hingga sekarang. Berikut ini adalah adat istiadat yang dapat Anda pelajari:

  • Kehamilan. Apabila terdapat seorang wanita yang hamil, suku asmat akan menjaga wanita tersebut dengan sangat protektif. Mereka tidak akan lengah menjaganya hingga wanita tersebut melahirkan anak.
  • Kelahiran. Setelah seorang wanita melahirkan, keluarga dari wanita tersebut akan melaksanakan upacara selamatan. Upacara ini merupakan proses pemotongan tali pusar dengan sembilu.
  • Pernikahan. Suku asmat akan menikah jika usia mereka mencapai 17 tahun atau lebih. Pernikahan ini tentunya juga harus melewati kesepakatan kedua keluarga terlebih dahulu. Selain itu, sebelum meminang, sang pria harus melewati uji keberanian untuk membeli sebuah piring antik yang harganya sangat mahal sekali.
  • Kematian. Apabila ada orang yang meninggal, suku akan memumikan orang tersebut. Kemudian mayatnya akan di pajang di depan joglo suku. Semua prosesi ini wajib dilakukan oleh seluruh masyarakat suku asmat, dengan pengecualian ketua adat atau ketua suku yang sedang berkuasa.

baca juga peta Kalimantan

Demikianlah artikel mengenai salah satu suku yang terkenal di Indonesia, yaitu suku asmat. Anda dapat membacanya sebagai tambahan wawasan pengetahuan umum tentang budaya Indonesia. Masih banyak suku-suku di Indonesia yang perlu diulas dan penting untuk diketahui.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.