10+ Contoh Portofolio : Fresh Graduate untuk Lamanaran Kerja

Contoh Portofolio Pada beberapa profesi, portofolio diperlukan sebagai syarat lamaran pekerjaan. Portofolio dijadikan bahan pertimbangan apakah kandidat tersebut patut diterima atau prosesnya tidak dilanjutkan.

Dalam artikel ini, ada beberapa contoh portofolio yang bisa menjadi acuan. Semuanya dibuat untuk beragam jenis lapangan pekerjaan.

Saat melamar pekerjaan, tidak perlu terlalu banyak memberikan contoh portofolio kepada perusahaan. Cukup tiga atau empat karya yang pantas dijadikan referensi.

Dengan melampirkan portofolio, pihak perekrut setidaknya bisa menilai kualitas seorang kandidat. Ini menjadi cara baru dalam menyeleksi orang-orang yang berkualitas.


Perbedaan Portofolio dengan CV

Perbedaan Portofolio Dengan CV

Sebelum membahas lebih lanjut tentang contoh portofolio, harus tau dulu perbedaan portofolio dengan CV. Ini penting untuk dipahami karena masih banyak orang yang salah paham. Dengan begitu, mereka tidak lolos ke tahap selanjutnya hanya karena salah memberikan lampiran. Kalau ini penyebab seseorang gagal mendapatkan pekerjaan, sungguh sangat disayangkan.

CV (curriculum vitae) merupakan sebuah dokumen yang berisi informasi diri lengkap. Mulai dari nama, alamat rumah, nomor telefon, latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, hingga hobi atau minat. CV membuat perusahaan tau secara sekilas mengenai “siapa calon kandidatnya”.

Hal tersebut jelas berbeda dengan isi portofolio. Siapa pun yang membaca atau melihat contoh portofolio, maka bisa menilai kualitas kerja. Portofolio tidak ada hubungannya dengan identitas diri, namun lebih kepada hasil kinerja dan kemampuan diri si kandidat. Portofolio tidak harus selalu berupa karya. Jika punya kemampuan leadership, bisa dilampirkan penjelasan pengalaman organisasi atau kepemimpinan pada profesi sebelumnya.

Umumnya contoh portofolio diminta untuk bidang-bidang pekerjaan kreatif, seperti fotografer, web designer, photo editor, content writer, dan sebagainya. Namun seiring dengan perkembangan zaman, tidak menutup hal ini menjadi persyaratan untuk beberapa lowongan pekerjaan lainnya.

Baca Juga: Contoh Artikel


Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Membuat Portofolio

Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Membuat Portofolio

Contoh portofolio yang dilampirkan tidak boleh main-main. Meski portofolio tidak harus pekerjaan asli yang pernah dilakukan sebelumnya (baru dibuat saat diminta sebagai persyaratan), bukan berarti memberikan sesuatu yang asal-asalan. Perhatikan beberapa hal dibawah pada saat akan membuat portofolio:

1. Sesuaikan dengan Posisi

Seperti yang sudah disebutkan di atas, beberapa posisi tertentu menjadikan contoh portofolio sebagai bahan pertimbangan. Buat karya sesuai dengan lowongan yang dilamar. Misalnya melamar posisi sebagai photo editor, maka portofolio yang dilampirkan adalah hasil edit-an foto. Bisa juga content creator, portofolionya berupa contoh-contoh tulisan. Baik yang pernah dipublikasikan atau baru dibuat sesuai brand yang dilamar.

2. Sesuaikan dengan Brand Identity

Setiap perusahaan memiliki identitasnya masing-masing. Misalnya produk fashion yang cenderung gaul atau high-class. Ada juga brand yang market-nya adalah para eksekutif muda, dan masih banyak lagi. Buat portofolio yang “jiwa”-nya sesuai dengan perusahaan dituju. Jangan buat karya yang bernuansa formal jika perusahaan yang dilamar berkomunikasi dengan pelanggannya menggunakan bahasa gaul dan santai.

3. Jangan Over

Maksudnya adalah jangan melampirkan terlalu banyak contoh portofolio. Memang semakin banyak perusahaan dapat lebih mudah menilai kreatifitas kandidat. Namun jika karya yang diberikan terlalu banyak apalagi tidak fokus, justru akan membuat si penyeleksi kebingungan. Tentukan beberapa karya andalan yang “menjual diri” di mata HRD.

4. Buat Secara Digital

Ini adalah cara baru yang banyak dipakai beberapa orang. Seiring dengan perkembangan zaman, portofolio didokumentasikan secara digital, baik dalam bentuk website atau blog pribadi, posting di social media, dan sebagainya. Saat diminta contoh portofolio oleh HRD, cukup memberikan link di mana portofolio dikumpulkan. Biarkan HRD bebas mengunjungi, melihat, dan menilai hasil karya yang ada di sana.

5. Berikan Sentuhan yang Menginspirasi

Sesuatu akan memiliki nilai lebih jika dapat menginspirasi. Tidak salah memang membuat karya sesuai minat. Namun sebuah karya jadi lebih menarik kalau memberikan inspirasi, misalnya menyadarkan suatu masalah sosial, mendorong sebuah gerakan peduli, dan sebagainya. Ada banyak contoh portofolio seperti ini, mulai dari desain grafis, foto, atau tulisan.


Beberapa Contoh Portofolio di Berbagai Profesi

Beberapa Contoh Portofolio Di Berbagai Profesi

Setelah mengetahui perbedaan CV dan portofolio, serta apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat portofolio, kini saatnya melihat beberapa contoh portofolio di berbagai profesi. Simak berbagai bentuknya di bawah, siapa tau bisa menjadi inspirasi:

1. Sport Photographer

Menjadi fotografer bukan berarti pintar mengambil angel saja. Setiap jenis fotografer memiliki concern khusus, seperti sport photographer. Orang-orang yang memfoto kegiatan olahraga tidak semudah fotografer dalam ruangan. Diperlukan keahlian khusus untuk menjadi sport photographer. Maka portofolionya cenderung menyuguhkan hasil foto-foto outdoor, kejelian dalam zooming, lighting yang tepat, dan sebagainya.

2. Web Designer

Dari namanya saja sudah jelas portofolio seperti apa yang dibutuhkan. Ya, contoh desain website adalah sesuatu yang diharapkan oleh HRD. Portofolio disajikan dalam bentuk website di mana HRD bisa menilai kemampuan serta kreatifitas kandidatnya. Desain lah website semenarik mungkin, mulai dari gambar dan warnanya. Suguhkan beberapa menu dan fitur yang mudahkan pengunjung dalam website tersebut.

3. Content Writer

Content writer termasuk profesi yang kini banyak diminati. Portofolio yang diberikan sudah pasti berupa contoh tulisan. Beberapa perusahaan memberikan rincian bentuk tulisan yang diminta, seperti penggunaan listicle, jumlah keyword yang harus disebutkan, tone penulisan, dan sebagainya. Namun ada juga beberapa yang hanya meminta alamat blog atau website di mana karya si kandidat berada. Semakin sesuai karya si kandidat, maka semakin berpeluang maju ke proses rekrutmen selanjutnya.

4. Animator

Tanggung jawab seorang animator adalah menyajikan desain yang menarik melalui animasi. Maka portofolio yang diberikan harus lah berupa visualisasi animasi yang beragam. Misalnya video kartun cerita pendek, video infografis tentang penjelasan suatu hal, dan lainnya. Untuk memudahkan, kumpulkan video-video animasi pada satu website supaya tinggal memberikan alamat web untuk HRD-nya.

Baca Juga: Contoh Skripsi

5. Fashion Designer

Contoh portofolio seorang fashion designer tidak harus selalu gambar. Zaman dulu mungkin yang dilihat adalah gambar desain baju. Tapi kini seorang fashion designer bisa menunjukkan kemampuannya lewat mix and match baju kemudian difoto dan di-upload ke social media. Beberapa fashion designer professional kini memamerkan kemampuannya lewat beberapa foto yang mereka padu padankan baju, celana, tas, sepatu, topi, dan fashion item lainnya. Foto-foto ini mereka posting dengan rapi di media sosial atau website pribadinya.

6. Make Up Artist Professional

Profesi ini dikenal juga dengan sebuatan MUA. Portofolio yang ditunjukkan berupa hasil make up yang mereka lakukan. Ada banyak jenis make up, seperti fashion make up yang cenderung tebal, wedding make up yang trennya kini flawless, dan nuansa lainnya. Portofolio pada kandidat make up artist disajikan dalam bentuk before-after model yang di-make up. Ini menunjukkan seberapa besar perubahan dan kualitas make up si perias.

7. Graphic Designer

Mirip seperti animator, hanya saja profesi graphic designer tidak menuangkannya dalam bentuk video. Umumnya portofolio yang diminta dalam bentuk tipografi, ilustrasi, atau desain gambar lainnya. Sama seperti content writer juga, graphic designer pun harus bisa menyesuaikan dengan tone perusahaan atau brand. Karena dalam setiap gambar memiliki warna, logo, dan beberapa elemen lainnya yang menjadi identitas tempat di kandidat melamar.

8. Architect Designer

Profesi ini akrab dikenal dengan arsitek. Beberapa lowongan pekerjaan sebagai arsitek kini mensyaratkan portofolio sebagai bukti desain dari si pelamar. Kalau dulu mungkin hanya bagi senior arsitek atau pro-hire saja. Tapi kini tidak, para junior arsitek pun kerap diminta contoh desain gambarnya saat melamar. Para architect designer memberikan rancang gambar bangunan sebagai contoh portofolio. Ada yang memberikan dalam bentuk blue print, ada juga yang menyuguhkannya dilengkapi dengan visualisasi actual-nya.

Di era yang sudah canggih, portofolio tidak diberikan dalam bentuk gulungan kertas. Beberapa orang mengumpulkannya dalam satu website yang berisi koleksi desain mereka. Bisa juga melalui file digital dalam format lain. Pastinya beberapa rancang bangunan, baik dalam bangunan rumah, pertokoan, apartemen, atau sebagainya, divisualisasikan semenarik mungkin sesuai dengan pekiraan selera perusahaan.

9. Interior Designer

Profesi ini mirip seperti architect designer. Perbedaannya adalah ruang lingkup pekerjaan mereka. Jika seorang arsitek mengerjakan desain bangunan, mulai dari pembagian ruang, tampak depan, dan lainnya, sedangkan interior designer berfokus pada estetika bagian dalam rumah. Ada yang menyebut profesi ini sebagai ahli tata ruang. Memang benar karena salah satu jobdesk-nya adalah menata bagian dalam bangunan agar sebagaimana mestinya.

Portofolio yang disajikan seorang interior designer berupa contoh hasil penataan sebuah ruangan. Bisa itu kamar tidur, ruang kerja, dan sebagainya. Sekarang sudah umum hasil-hasil ini difoto kemudian diunggah ke media sosial, seperti Instagram. Ada juga yang menjadikannya sebagai satu album digital. Adanya portofolio ini menjadi gambaran kemampuan seseorang dalam menata ruangan. Tak hanya itu, dari portofolio yang disajikan, HRD pun setidaknya bisa menilai selera calon karyawannya tersebut.

Baca Juga: Contoh Soal Psikotes

10. Translator

Tugas dari seorang translator sedikit bersinggungan dengan content writer. Hanya saja translator tidak membuat tulisannya sendiri. Ada beberapa naskah yang harus diterjemahkannya, baik dari bahasa asing ke Indonesia, dari Indonesia ke bahasa asing, atau antar bahasa asing. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Biasanya yang harus diterjemahkan adalah naskah cerita atau dokumen legal.

Mungkin pekerjaan seorang translator terkesan mudah. Tapi jangan salah, mencari seorang translator profesional tidak lah mudah. Makannya beberapa perusahaan ada yang meminta contoh hasil terjemahan kandidatnya sebelum diterima. Portofolio seorang translator bisa berupa hasil terjemahan cerita pendek, novel, jurnal ilmiah, dokumen perjanjian legal, dan sebagainya.

Portofolio translator tidak seperti profesi di bidang kreatif yang dimasukkan ke dalam situs web atau blog pribadi. Umumnya para pelamar melampirkannya dalam attachment e-mail atau hardcopy. Portofolio seorang translator tidak terbatas pada pekerjaan yang pernah dilakukannya saja. Terkadang perusahaan pun meminta seseorang untuk menerjemahkan sebuah dokumen sebagai tahapan tes dan dianggap contoh hasil kerjaan mereka.

Membuat contoh portofolio memang membutuhkan sedikit trik agar terlihat menarik. Beruntung bagi mereka yang memang melampirkan hasil kerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya. Setidaknya sudah terbukti bahwa pekerjaannya berkualitas karena digunakan oleh pihak tertentu. Namun bagi yang belum bisa seperti ini tidak usah berkecil hati. Membuat portofolio adalah ajang pembuktian diri bahwa layak diterima dalam sebuah pekerjaan. Lakukan yang terbaik dan berkarya lah!

Contoh Portofolio 

Tinggalkan komentar